Jumat, 04 Desember 2015

SEJARAH KARATE 

Ilmu bela diri sebenarnya sudah dikenal semenjak manusia ada, hal ini dapat dilihat dari peninggalan-peninggalan purbakala antara lain: kapak-kapak batu, lukisan-lukisan binatang yang dibunuh dengan senjata seperti tombak dan panah.
Bela diri pada waktu itu hanya bersifat mempertahankan diri dari gangguan binatang buas dan alam sekitarnya. Namun sejak pertambahan penduduk dunia semakin meningkat, maka gangguan yang datang dari manusia mulai timbul sehingga keinginan orang untuk menekuni ilmu bela diri semakin meningkat.
Tersebutlah pada 4.000 tahun yang lalu, setelah Sidartha Gautama pendiri Budha wafat, maka para pengikutnya mendapat amanat agar mengembangkan agama Budha keseluruh dunia. Namun karena sulitnya medan yang dilalui, maka para pendeta diberikan bekal ilmu bela diri. Misi yang ke arah Barat ternyata mengembangkan ilmu Pangkration atau Wrestling di Yunani. Misi keagamaan yang berangkat ke arah Selatan mengembangkan semacam, pencak silat yang kita kenal sekarang ini. Salah satu misi yang ke Utara menjelajahi Cina menghasilkan kungfu (belakangan di abad XII, kungfu dibawa oleh pedagang Cina dan Kubilaikhan kenegara Majapahit di Jawa Timur).
Dari Cina rombongan yang ke Korea menghasilkan bela diri yang kemudian kita kenal dengan Taekwondo. Dari Korea ternyata rombongan tidak dsapat meneruskan perjalanan ke Jepang, tetapi berhenti hanya sampai di kepulauan Okinawa. Tidak berhasil masuknya rombongan ke Jepang, karena di Jepang saat itu sudah mengembangkan ilmu bela diri Jujitsu, yudo, kendo dan ilmu pedang (kenjutsu). Namun sejarah mencatat bahwa pada tahun 1600-an, Kerajaan Jepang telah menguasai Okinawa. Kerajaan Jepang telah memerintah Okinawa dengan tangan besi, penduduk dilarang memiliki senjata tajam, bahkan orang tua dilarang memakai tongkat. Diam-diam bangsa yang terjajah ini mempelajari ilmu bela diri dengan tangan kosong yang waktu itu dikenal dengan nama TOTE. Dari satu teknik ke teknik lainnya, ilmu bela diri diperdalam dan para pendeta ikut mendorong berkembangnya ilmu bela diri TOTE ini.
Kemudian pada tahun 1921 seorang penduduk Okinawa bernama Gichin Funakoshi memperkenalkan ilmu bela diri dari TOTE ini di Jepang, dan namanya pun berubah menjadi karatre, sesuai dengan aksen Jepang dalam cara membaca huruf kanji. Sejak saat itu karate berkembang dengan pesat di Jepang.

KARATE DI INDONESIA

Karate masuk di Indonesia bukan dibawa oleh tentara Jepang melainkan oleh Mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang kembakli ke tanah air, setelah menyelesaikan pendidikannya di Jepang. Tahun 1963 beberapa Mahasiswa Indonesia antara lain: Baud AD Adikusumo, Karianto Djojonegoro, Mochtar Ruskan dan Ottoman Noh mendirikan Dojo di Jakarta. Mereka inilah yang mula-mula memperkenalkan karate (aliran Shoto-kan) di Indonesia, dan selanjutnya mereka membentuk wadah yang mereka namakan Persatuan Olahraga Karate Indonesia (PORKI) yang diresmikan tanggal 10 Maret 1964 di Jakarta.
Beberapa tahun kemudian berdatangan ex Mahasiswa Indonesia dari Jepang seperti Setyo Haryono (pendiri Gojukai), Anton Lesiangi, Sabeth Muchsin dan Chairul Taman yang turut mengembangkan karate di tanah air. Disamping ex Mahasiswa-mahasiswa tersebut di atas orang-orang Jepang yang datang ke Indonesia dalam rangka usaha telah pula ikut memberikan warna bagi perkembangan karate di Indonesia. Mereka-mereka ini antara lain: Matsusaki (Kushinryu-1966), Ishi (Gojuryu-1969), Hayashi (Shitoryu-1971) dan Oyama (Kyokushinkai-1967)
Karate ternyata memperoleh banyak penggemar, yang implementasinya terlihat muncul dari berbagai macam organisasi (Pengurus) karate, dengan berbagai aliran seperti yang dianut oleh masing-masing pendiri perguruan. Banyaknya perguruan karate dengan berbagai aliran menyebabkan terjadinya ketidak cocokan diantara para tokoh tersebut, sehingga menimbulkan perpecahan di dalam tubuh PORKI. Namun akhirnya dengan adanya kesepakatan dari para tokoh-tokoh karate untuk kembali bersatu dalam upaya mengembangkan karate di tanah air sehingga pada tahun 1972 hasil Kongres ke IV PORKI, terbentuklah satu wadah organisasi karate yang diberi nama Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI).

FORKI KAB. MAROS

Perkembangan olah raga Karate di Kab. Maros juga sangat pesat hal ini terlihat dengan tumbuh kembangnya berbagai perguruan Karate yang mengadakan latihan baik di sekolah, instansi pemerintah maupun umum. Disamping itu perguruan - perguruan tersebut telah berperan aktif atau mengambil bagian (mengirimkan kontingen) dalam setiap event kejuaraan baik tingkat daerah maupun nasinal.  Baik dalam kontiengen Perguruan maupun dalam Kontingen FORKI Kab. Maros.
Kepengurusan FORKI Kab. Maros dari masa - ke masa (Ketua Umum dan Sekretaris Umum)  :
PERIODE
KETUAUMUM
SEKRETARIS UMUM
KETERANGAN
- - - PM
2008 - 2012 Drs. H. A. Fahry Makkasau Soekino
2012 - 2015 Sudirman, SE Ir. Syamsul Bahri, M.Si
2015 - 2019 Syahruddin Sehuddin, SE, MM Ir. Syamsul Bahri, M.Si

PERGURUAN KARATE ANGGOTA FORKI MAROS :
1.  INKANAS (Intitut Karate-Do Nasional)

2.   BLACK PANTHER KARATE INDONESIA
3.   INKAI (Institut Karate-Do Indonesia)
4.   KKI (Kushin Ryu M. Karate-Do Indonesia)


Rabu, 28 Oktober 2015

REVIUE PORDA FORKI MAROS DARI MASA KE MASA

PORDA XI KOTA PALOPO Tahun 2002 (2 Perak dan 1 Perunggu)
Atlet FORKI Maros peraih medali :
1. M. Asdar       = (Medali Perak) Kumite Klas Bebas Putra
2. Pagga            =  (Medali Perak) Kumite Klas  + 80 kg 
3. M. Asdar       = (Medali Perunggu) Kumite Klas - 60 kg Putra

PORDA XIII KAB. PANGKEP Tahun 2010 (3 Perak dan 4 Perunggu)
Atlet FORKI Maros peraih medali :


      -        Kumite Kelas Bebas Putra
               Abu Rizal HR =  (Medali Perak)
      -        Kumite Perorangan Putri Kelas + 60 kg
               Eka Santi = (Medali Parak)
      -        Kumite Beregu Putra = (Medali Parak) Abu Rizal, Lasumi, Lukman, 
               Isman Firmansyah, Hamka Madjid
      -        Kata Beregu Putra
               Hamka Madjid = Juara III (Medali Perunggu)
               Lucky
               Anis Usman
      -        Kata Perorangan Putra
               Hamka Madjid = Juara III (Medali Perunggu)
      -        Kumite Perorangan Putra Kelas – 55 kg
               Abu Rizal HR = Juara III (Medali Perunggu)
      -               Kumite Perorangan Putri Kelas – 48 kg
               Eka Setyawati = Juara III (Medali Perunggu)


PORDA XIV KAB. BANTAENG Tahun 2014 (4 Perunggu)
Atlet FORKI Maros peraih medali :


-  Deni Supriyono Setiawan = Kumite – 55 kg Putra (Medali Perunggu)
-  Dhini Paramita Sari
   A. Ardisa Savitri
   Hindryawaty
   Kata Beregu Putri (Medali Perunggu)
-  A. Ardisa Savitri = Kumite – 55 kg Putri (Medali Perunggu)
-  Maria Herlinda Dos Santos = Kumite + 68 kg Putri (Medali Perunggu)